Gerbang Awal Memahami Al-Ajurrumiyyah
Ketika mulai belajar kitab Al-Ajurrumiyyah, pembahasan pertama yang akan kita temui adalah definisi kalam:
الكَلَامُ هُوَ : اللَّفْظُ الْمُرَكَّبُ الْمُفِيدُ بِالْوَضْعِ
“Kalam adalah lafazh yang tersusun, memberikan makna sempurna, dan menggunakan bahasa Arab.”
Mungkin terlihat sederhana. Tapi sebenarnya, definisi singkat ini adalah pondasi utama seluruh ilmu Nahwu.
Karena Nahwu tidak langsung berbicara tentang fa'il, maf'ul, atau i'rab. Para ulama terlebih dahulu mengajarkan:
“Apa sebenarnya yang disebut kalimat sempurna dalam bahasa Arab?”
Dua Makna “Kalam”
Dalam syarah At-Tuhfah As-Saniyyah, dijelaskan bahwa kata kalam memiliki dua makna:
1. Makna Bahasa (Lughawi)
Segala sesuatu yang memberikan pemahaman.
Termasuk:
tulisan,
isyarat,
gerakan kepala,
atau ucapan.
Misalnya seseorang bertanya:
“Apakah bukunya sudah dibawa?”
Lalu kita mengangguk. Orang langsung paham maksudnya. Dalam makna bahasa, itu bisa disebut “kalam”.
2. Makna Nahwu (Istilah)
Dalam ilmu Nahwu, definisinya lebih khusus.
Sebuah ucapan baru disebut kalam jika memenuhi empat syarat penting.
1. Harus Berupa Lafazh (اللَّفْظُ)
Artinya: berupa suara yang diucapkan dan tersusun dari huruf hijaiyah.
Contoh:
مُحَمَّدٌ
يَكْتُبُ
سَعِيْدٌ
Sedangkan isyarat tangan atau tulisan tanpa dibaca tidak disebut lafazh menurut ulama Nahwu.
2. Harus Tersusun (الْمُرَكَّبُ)
Artinya terdiri dari dua kata atau lebih.
Contoh:
العِلْمُ نَافِعٌ (ilmu itu bermanfaat)
مُحَمَّدٌ مُسَافِرٌ (Muhammad seorang musafir)
يَنْجَحُ الْمُجْتَهِدُ (Orang yang bersungguh-sungguh berhasil)
Adapun satu kata saja seperti:
مُحَمَّدٌ
قَامَ
مِنْ
belum dianggap kalam karena maknanya belum lengkap.
3. Harus Memberi Makna Sempurna (الْمُفِيدُ)
Inilah syarat terpenting.
Pendengar tidak lagi menunggu kelanjutan ucapan tersebut.
Contoh:
إِذَا حَضَرَ الأُسْتَاذُ
“Jika guru datang…”
Kalimat ini belum sempurna. Pendengar masih bertanya:
“Lalu apa?”
Namun jika dilanjutkan:
إِذَا حَضَرَ الأُسْتَاذُ أَنْصَتَ التَّلَامِيذُ
“Jika guru datang, murid-murid pun diam.”
Maka barulah disebut kalam.
4. Menggunakan Bahasa Arab (بِالْوَضْعِ)
Maksudnya: kata-kata yang dipakai memang berasal dari bahasa Arab.
Contoh:
حَضَرَ مُحَمَّدٌ
Kata:
حَضَرَ
مُحَمَّدٌ
adalah lafazh Arab.
Karena itu ia termasuk kalam menurut ulama Nahwu.
Mengapa Definisi Ini Penting?
Karena seluruh pembahasan Nahwu dibangun di atas konsep kalam.
Dari sinilah nanti lahir pembahasan:
Isim
Fi'il
Huruf
Mubtada
Khabar
Fa'il
Maf'ul
dan berbagai kaidah lainnya.
Maka para ulama selalu memulai dari pondasi paling dasar sebelum masuk ke pembahasan yang lebih rumit.
Contoh Kalam Sempurna
━━━━━━━━━━
العِلْمُ نَافِعٌ
يَنْجَحُ الْمُجْتَهِدُ
اللهُ رَبُّنَا
لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ
━━━━━━━━━━
Semua contoh di atas:
✔ berupa lafazh
✔ tersusun
✔ memberi makna sempurna
✔ menggunakan bahasa Arab
Belajar Nahwu sebenarnya bukan hanya belajar harakat atau struktur kalimat. Lebih dari itu, ia melatih ketelitian berpikir dan ketepatan memahami wahyu.
Karena terkadang, satu harakat bisa mengubah makna.
Dan satu kesalahan memahami susunan kalimat bisa mengubah pemahaman agama.
Maka tidak heran jika para ulama menjadikan Nahwu sebagai gerbang awal memahami ilmu-ilmu Islam.
━━━━━━━━━━
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَإِخْلَاصًا

