🎯 Misi Belajar Hari Ini
Setelah mempelajari artikel ini, insya Allah kamu akan mampu:
- ✅ Memahami pengertian Jamak Muannats Salim beserta ciri-cirinya.
- ✅ Mengetahui kapan Jamak Muannats Salim dirafa' dengan dhammah zhahirah dan kapan dhammahnya menjadi muqaddarah.
- ✅ Membedakan Jamak Muannats Salim dengan Jamak Taksir yang bentuknya hampir mirip.
- ✅ Memahami macam-macam tanda rafa' pada Fi'il Mudhari', baik dhammah zhahirah maupun dhammah muqaddarah.
- ✅ Mengetahui sebab mengapa dhammah bisa menjadi muqaddarah, yaitu karena ats-tsiqal (berat) atau at-ta'adzur (tidak mungkin diucapkan).
- ✅ Mengenali kondisi ketika Fi'il Mudhari' tidak lagi dirafa' dengan dhammah, tetapi menggunakan tanda rafa' yang lain.
📚 Target kita: Setelah selesai membaca, kamu tidak hanya hafal kaidahnya, tetapi juga mampu membedakan setiap contoh yang sering muncul dalam kitab-kitab nahwu.
Pada artikel sebelumnya kita telah mempelajari bahwa dhammah menjadi tanda rafa' bagi isim mufrad dan jamak taksir. Nah, pembahasan kita belum selesai. Masih ada dua kelompok lagi yang juga dirafa' dengan dhammah, yaitu Jamak Muannats Salim dan Fi'il Mudhari'.
Tenang saja, materinya tidak sesulit yang dibayangkan. Kita akan membahasnya sedikit demi sedikit, lengkap dengan contoh agar lebih mudah dipahami.
Jamak Muannats Salim: Si "ات" di Akhir Kata
Jamak Muannats Salim adalah bentuk jamak yang menunjukkan lebih dari dua perempuan, dengan cara menambahkan alif (ا) dan ta' (ت) di akhir kata.
Karena itu, apabila kamu menemukan kata yang berakhiran ات, sering kali kata tersebut adalah Jamak Muannats Salim. Namun ingat, nanti kita akan belajar bahwa tidak semua kata yang berakhiran ات termasuk Jamak Muannats Salim.
Contohnya:
زَيْنَبَاتٌ
فَاطِمَاتٌ
حَمَامَاتٌ
Perhatikan contoh berikut.
جَاءَ الزَّيْنَبَاتُ
"Para perempuan yang bernama Zainab telah datang."
سَافَرَتِ الْفَاطِمَاتُ
"Para perempuan yang bernama Fatimah telah bepergian."
Pada kedua kalimat tersebut, kata الزَّيْنَبَاتُ dan الْفَاطِمَاتُ berstatus marfu', sedangkan tanda rafa'-nya adalah dhammah zhahirah, yaitu dhammah yang tampak jelas di akhir kata.
Ada Satu Pengecualian
Dhammah pada Jamak Muannats Salim hampir selalu tampak.
Namun ada satu kondisi ketika dhammah menjadi muqaddarah (diperkirakan), yaitu saat kata tersebut diidhafahkan kepada Ya' Mutakallim (ي).
Contohnya:
هَذِهِ شَجَرَاتِي وَبَقَرَاتِي
"Ini adalah pohon-pohonku dan sapi-sapiku."
Kata شَجَرَاتِي dan بَقَرَاتِي tetap berstatus marfu'. Hanya saja dhammahnya tidak tampak karena tertutup oleh kasrah yang muncul sebelum Ya' Mutakallim.
Hati-Hati! Jangan Sampai Tertukar dengan Jamak Taksir
Banyak pemula mengira semua kata yang berakhiran ات pasti Jamak Muannats Salim.
Padahal tidak demikian.
Ada dua keadaan yang membuat sebuah kata termasuk Jamak Taksir, bukan Jamak Muannats Salim.
1. Alifnya Bukan Alif Tambahan
Perhatikan contoh berikut.
| Mufrad | Jamak |
|---|---|
| القَاضِي | القُضَاةُ |
| الدَّاعِي | الدُّعَاةُ |
Pada kedua contoh tersebut, bentuk jamaknya memang memiliki huruf alif. Akan tetapi, alif tersebut merupakan bagian dari pola Jamak Taksir, bukan tambahan sebagaimana pada Jamak Muannats Salim.
Karena itu, kedua kata di atas bukan Jamak Muannats Salim.
2. Ta'-nya Bukan Ta' Tambahan
Begitu pula jika huruf ta' merupakan bagian dari pola jamaknya.
Contohnya:
مَيِّتٌ → أَمْوَاتٌ
بَيْتٌ → أَبْيَاتٌ
صَوْتٌ → أَصْوَاتٌ
Ketiga contoh di atas juga termasuk Jamak Taksir.
Kunci mengingat: Jamak Muannats Salim terbentuk karena adanya penambahan alif dan ta' pada akhir bentuk mufrad. Jika alif atau ta' bukan tambahan, maka itu bukan Jamak Muannats Salim.
Fi'il Mudhari': Kata Kerja yang Bisa Marfu'
Selain isim, Fi'il Mudhari' juga dapat berstatus marfu'.
Tanda rafa'-nya juga berupa dhammah, tetapi bentuk dhammahnya berbeda-beda tergantung huruf terakhir fi'il tersebut.
Supaya mudah diingat, mari kita kelompokkan menjadi empat keadaan.
1. Dhammah Zhahirah
Contoh:
يَضْرِبُ
يَكْتُبُ
Pada kedua fi'il di atas, dhammah tampak jelas sehingga disebut dhammah zhahirah.
2. Dhammah Muqaddarah karena Berat (الثقل)
Jika fi'il berakhir dengan huruf و.
Contohnya:
يَدْعُو
يَرْجُو
Dhammah tetap ada, tetapi tidak ditampakkan karena terasa berat jika dibaca pada huruf waw.
3. Dhammah Muqaddarah karena Berat
Jika fi'il berakhir dengan huruf ي.
Contohnya:
يَقْضِي
يُرْضِي
Sebabnya sama, yaitu karena berat diucapkan.
4. Dhammah Muqaddarah karena Ta'adzur
Jika fi'il berakhir dengan huruf ا.
Contohnya:
يَرْضَى
يَقْوَى
Berbeda dengan dua sebelumnya.
Di sini dhammah tidak tampak bukan karena berat, tetapi karena huruf alif memang tidak mungkin menerima harakat.
📋 Ringkasan Bentuk Dhammah pada Fi'il Mudhari'
| Huruf Terakhir | Jenis Dhammah | Sebab | Contoh |
|---|---|---|---|
| Huruf biasa | Zhahirah | Tidak ada penghalang | يَضْرِبُ ، يَكْتُبُ |
| Waw (و) | Muqaddarah | Ats-Tsiqal (berat diucapkan) | يَدْعُو ، يَرْجُو |
| Ya' (ي) | Muqaddarah | Ats-Tsiqal (berat diucapkan) | يَقْضِي ، يُرْضِي |
| Alif (ا) | Muqaddarah | At-Ta'adzur (tidak mungkin diucapkan) | يَرْضَى ، يَقْوَى |
Semua pembahasan di atas berlaku selama Fi'il Mudhari' tidak disambung dengan:
ألف الاثنين
واو الجماعة
ياء المخاطبة
Contohnya:
يَكْتُبَانِ
يَنْصُرُونَ
تَكْتُبِينَ
Dalam keadaan seperti ini, tanda rafa'-nya bukan lagi dhammah, tetapi ثبوت النون (tetapnya huruf nun).
Pembahasan ini akan kita pelajari lebih rinci pada artikel berikutnya.
Selain itu, ada dua keadaan lain yang membuat Fi'il Mudhari' tidak lagi berstatus marfu'.
Disambung dengan Nun Taukid
Contohnya:
(لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ)
Fi'il mudhari' pada keadaan ini menjadi mabni di atas fathah.
Disambung dengan Nun Niswah
Contohnya:
(وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ)
Fi'il mudhari' pada keadaan ini menjadi mabni di atas sukun.
📝 Ringkasan Pelajaran
Sebelum lanjut ke artikel berikutnya, mari kita simpulkan pembahasan hari ini.
- Jamak Muannats Salim dirafa' dengan dhammah zhahirah, kecuali jika diidhafahkan kepada Ya' Mutakallim, maka dhammahnya menjadi muqaddarah.
- Tidak semua kata yang berakhiran ات termasuk Jamak Muannats Salim. Perhatikan apakah alif dan ta'-nya benar-benar merupakan tambahan.
- Fi'il Mudhari' dapat dirafa' dengan dhammah zhahirah atau dhammah muqaddarah, tergantung huruf terakhirnya.
- Dhammah menjadi muqaddarah karena berat (الثقل) pada fi'il yang berakhir dengan waw dan ya', sedangkan pada fi'il yang berakhir dengan alif, dhammah menjadi muqaddarah karena ta'adzur (التعذر).
- Jika Fi'il Mudhari' disambung dengan ألف الاثنين, واو الجماعة, atau ياء المخاطبة, tanda rafa'-nya berubah menjadi ثبوت النون.
- Jika disambung dengan Nun Taukid atau Nun Niswah, fi'il tersebut tidak lagi berstatus marfu', tetapi menjadi mabni sesuai ketentuannya.
Insya Allah, pada artikel berikutnya kita akan membahas lebih dalam tentang ثبوت النون (tetapnya huruf nun) sebagai salah satu tanda rafa'.
Sampai jumpa di pembahasan selanjutnya!
━━━━━━━━━━
اللَّهُمَّ انْفَعْنَا بِمَا عَلَّمْتَنَا، وَعَلِّمْنَا مَا يَنْفَعُنَا، وَزِدْنَا عِلْمًا وَفَهْمًا وَإِخْلَاصً
ا

